Organisasi Muhammadiyah didirikan oleh Muhammad Darwisy atau yang lebih dikenal dengan K.H. Ahmad Dahlan di Kauman, Yogyakarta pada tanggal 08 Dzulhijjah 1330 H/ 18 November 1912 sebagai tanggapan terhadap berbagai saran dari sahabat dan murud-muridnya untuk mendirikan sebuah lembaga yang bersifat permanen.

Sebagai sebuah organisasi yang berasaskan Islam, tujuan Muhammadiyah yang paling penting adalah untuk menyebarkan ajaran Islam, baik melalui pendidikan maupun kegiatan sosial lainnya. Selain itu meluruskan keyakinan yang menyimpang serta menghapuskan perbuatan yang dianggap oleh Muhammadiyah sebagai bid`ah. 

Organisasi ini juga memunculkan praktek-praktek ibadah yang hampir-hampir belum pernah dikenal sebelumnya oleh masyarakat, seperti shalat hari raya di lapangan, mengkoordinir pembagian zakat dan sebagainya.

Baca Juga :


Sebagai suatu organisasi, Muhammadiyah pernah dipimpin oleh beberapa tokoh. Berikut adalah tokoh-tokoh yang pernah memimpin Muhammadiyah:

  1. K.H. Ahmad Dahlan (1912-1923).
  2. K.H Ibrahim (1923-1932).
  3. K.H. Hisyam (1932-1936).
  4. K.H. Mas Mansur (1936-1942).
  5. Ki Bagus Hadikusumo (1942-1953).
  6. A.R Sutan Mansur (1952-1959).
  7. K.H.M Yunus Anis (1959-1962).
  8. K.H Ahmad Badawi (1962-1968).
  9. K.H Faqih Usman (1968-1969).
  10. K.H. A.R. Fachruddin (1969-1990).
  11. K.H A.Azhar Basyir, MA (1990-1995).
  12. Dr. H.M. Amien Rais, M.A. (1995-1998).
  13. Prof. Dr. A. Syafii Maarif (1998-2005).
  14. Prof.Dr. Din Syamsudin (2005-2015). 
  15. Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si. (2015-Sekarang).
Kepemimpinan Muhammadiyah dari masa K.H. Ahmad Dahlan sampai masa K.H. A.R. Fachruddin memiliki kecenderungan bersifat Kharismatik. Mereka menjadi pimpinan lebih didasarkan karena mereka memiliki kewibawaan personal. Kewibawaan tersebut muncul ada yang berkenaan karena faktor sebagai pendiri organisasi, peran selama ini di organisasi, dan penguasaan ilmu agama. 

Adapun pola kepemimpinan Muhammadiyah dari masa K.H A.Azhar Basyir, MA sampai masa Prof.Dr. Din Syamsudin, memiliki kecenderungan bersifat Legal-rasional. Mereka menjadi pimpinan lebih didasarkan karena faktor keahlian atau skill.  

Leave a Reply

Your email address will not be published.