7 Jenis Cuti Karyawan Menurut UU Terbaru

jenis cuti karyawan
7 Jenis Cuti Karyawan

Jenis Cuti Karywan – Aktivitas pekerjaan di kantor yang membosankan menjadi salah satu hal yang dirasakan oleh karyawan setiap hari. Walaupun rata-rata perusahaan menerapkan mekanisme lima hari kerja, kadangkala hal tersebut dirasa kurang untuk mengembalikan suasana hati bekerja para karyawan. Oleh karena itulah, karyawan mempunyai hak cuti yang dapat diambil sama sesuai peraturan yang berjalan. Jenis cuti beragam, tergantung alasan dan peraturan perusahaan.

Sesuai peraturan, karyawan mempunyai hak cuti yang dapat diperoleh di perusahaan. Apa jenis hak cuti tersebut? Ada aturan baku yang tercatat dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan.

Beberapa jenis cuti tidak sekedar membuat produktivitas bertambah dan menjaga kesehatan fisik dan psikis karyawan. Cuti dapat memberi banyak manfaat baik dari segi karyawan atau perusahaan. Berikut beberapa jenis cuti dan penjelasannya.

Pengertian Cuti Karyawan

Di Indonesia, cuti adalah hak setiap karyawan yang terdapat dasar hukumnya yakni Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 mengenai Ketenagakerjaan. Ada aturan yang jelas pada perusahaan berkaitan dengan aturan penerapan cuti ini dibikin dengan tujuan supaya karyawan dan perusahaan sama diuntungkan dan tidak ada perselisihan.

Peraturan dan jenis-jenis cuti karyawan dapat menentukan pemberian upah oleh perusahaan. Cuti sebagai hak karyawan yang diberi oleh perusahaan dan akan memberi keproduktifan untuk karyawan dalam bekerja karena hak cutinya diperhatikan oleh perusahaan.

Pemberian cuti kerja karyawan ini diharapkan karyawan nantinya dapat memberi kinerja yang optimal dan berkualitas pada perusahaan dan saat kembali bekerja semakin lebih konsentrasi pada pekerjaan.

Tetapi sebenarnya, masih banyak perusahaan yang peraturannya tidak sesuai Undang-Undang Ketenagakerjaan. Beberapa karyawan yang cuti tapi memberikan kerugian perusahaan, seperti mangkir dengan alasan tidak jelas atau tanpa keterangan. Oleh karenanya, UU No 13 tahun 2003 ini penting dipelajari oleh perusahaan dan karyawan supaya masing-masing pihak tidak ada yang melanggar.

Konflik mengenai cuti kerja karyawan umum terjadi dimulai dari pengajuan, proses persetujuan, waktu, waktu cuti sampai ada pemotongan gaji atau tidak saat melakukan cuti. sehingga kita mesti tahu apa jenis cuti karyawan itu karena cuti merupakan hak karyawan yang perlu diberikan perusahaan.

Menurut Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 mengenai Ketenagakerjaan, perusahaan harus memberikan cuti ke karyawan dan karyawan akan tetap mendapatkan upah walau sedang mengambil cuti.

Jenis-Jenis Cuti Karyawan

Ada beberapa jenis cuti karyawan menurut Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 mengenai Ketenagakerjaan yang berlaku.

Cuti Tahunan

Disebut dalam Undang-Undang No 13 Tahun 2003 Pasal 79 ayat (2), Setiap karyawan memiliki hak atas 12 hari cuti tahunan, dengan kondisi karyawan tersebut telah bekerja minimal 12 bulan secara berturut-turut di perusahaan tersebut.

Terus bagaimanakah karyawan dengan masa kerja kurang dari satu tahun dan ingin mengambil cuti?
Diluar ketentuan undang-undang tersebut, ada banyak peraturan yang menjadi peraturan perusahaan berkenaan hak cuti karyawan.

Perusahaan memiliki opsi untuk menolak keinginan cuti, atau memberikan izin sebagai cuti diluar tanggungan dan perusahaan bisa melakukan pemotongan gaji karyawan tersebut dengan prorata sesuai waktu absennya.

Harus diingat pada intinya peraturan cuti benar-benar bergantung pada perusahaan. Dijelaskan dalam undang-undang, jika implementasi cuti tahunan ditetapkan berdasarkan hasil dialog antara karyawan dan perusahaan.

Cuti Sakit

jeni cuti sakit karyawan
Cuti Sakit

Bila seorang karyawan meminta izin tidak masuk kerja karena sakit, maka perusahaan harus mengizinkan karyawan tersebut untuk istirahat supaya tidak memaksakan diri untuk bekerja.

Berapakah jumlah cuti sakit pada sebuah tahun yang ditentukan?

Pada intinya tidak ada batasan untuk cuti sakit, tapi peraturan ini akan berbeda di setiap perusahaan bergantung pada masing-masing perusahaan.

Biasanya kalau karyawan sakit, maka karyawan memiliki hak memperoleh izin tidak masuk kantor sepanjang karyawan mempunyai surat keterangan dari dokter.

Lama periode cuti sakit bergantung pada lama istirahat yang dicantumkan dokter di surat keterangan tersebut.

Cuti Melahirkan

Perusahaan harus memberi hak cuti bersalin atau melahirkan untuk karyawan wanita yang akan melahirkan.

Peraturan mengenai cuti hamil tercatat pada pasal 82 ayat (1), pada pasal tersebut dituliskan jika wanita yang hamil memiliki hak untuk memperoleh waktu cuti 1.5 bulan saat sebelum kelahiran dan 1.5 bulan sesudah kelahiran.

Sepanjang cuti hamil, karyawan wanita masih memiliki hak untuk memperoleh gaji secara utuh dari perusahaan, ini tertera pada pasal 84 UU Nomor 13 tahun 2003. Umumnya lingkupan cuti ini bisa juga dipakai untuk suami atau disebut dengan cuti melahirkan untuk suami.

Cuti hamil tidak mengurangi porsi cuti tahunan karyawan wanita.

Cuti Besar

Cuti besar atau istirahat panjang umumnya diberi pada karyawan yang telah memberikan loyalitasnya ke perusahaan.

Umumnya ini diberikan kepada karyawan yang sudah bekerja minimal 6 tahun, dan memiliki hak atas cuti selama 1 bulan.

Tetapi peraturan mengenai cuti besar ini diberi berdasar kebijakan pada perusahaan, karena ada perusahaan yang tidak menyediakan cuti besar ini.

Jadi cuma perusahaan tertentu saja yang memberi hak jenis cuti besar karyawan ini.
Porsi cuti besar ini tidak mengurangi jumlah cuti tahunan karyawan.

Cuti Karena Urusan Penting

Cuti yang sering digunakan oleh karyawan dalam memakai hak cutinya karena seorang karyawan memiliki hak untuk mengajukan cuti jika ada masalah penting dan ada halangan bekerja.

Cuti penting merupakan cuti yang dibolehkan jika ada keperluan-keperluan penting yang harus dikerjakan, ketentuan terkait cuti penting ialah seperti berikut:

  • Karyawan Menikah, diberikan cuti selama 3 hari
  • Menikahkan anak, diberikan cuti selama 2 hari
  • Mengkhitankan anak, diberikan cuti selama 2 hari
  • Membaptiskan anak, diberikan cuti selama 2 hari
  • Istri melahirkan atau mengalami keguguran, diberikan cuti selama 2 hari
  • Suami/istri, orangtua/mertua, anak atau menantu ada yang meninggal dunia, diberikan cuti selama 2 hari
  • Anggota keluarga di satu rumah meninggal dunia, diberikan cuti sepanjang 1 hari

Ketentuan mengenai cuti penting ini diatur dalam pasal 93 ayat (4) dalam UU nomor 13 tahun 2003.

Cuti Berdukacita

Seorang karyawan akan mengambil cuti berdukacita setelah kematian orang yang disayangi (umumnya keluarga atau sahabat).

Jumlah cuti umumnya dihitung saat karyawan perlu mengunjungi pemakaman dan segera pulih dari duka cita.

Cuti berdukacita tidak diwajibkan oleh hukum di Indonesia. Tetapi, beberapa perusahaan mempunyai peraturan internal untuk cuti ini.

Dalam beragam kasus, karyawan cuma akan memenuhi persyaratan untuk cuti berdukacita bila karyawan tersebut merupakan karyawan penuh waktu dan sudah bekerja di perusahaan untuk periode waktu tertentu.

Cuti Bersama

Cuti bersama telah diatur pemerintahan dan akan dihitung dalam cuti tahunan . Maka tidak boleh memakai tanggal cuti bersama untuk liburan bekerja karena jatah cuti tahunan berkurang.

Umumnya cuti ini diberikan di saat liburan akhir pekan, hari raya keagamaan, sampai peringatan hari nasional.

Khusus untuk cuti ini, ketentuan yang berlaku ialah Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI Nomor SE.441/MEN/SJ-HK/XII/2009.

Dalam surat selebaran ini, dipastikan jika cuti bersama merupakan bagian dari cuti tahunan.

Maka dari itu, jika seorang memperoleh cuti bersama, hak cuti tahunannya akan berkurang. Sementara itu, jika karyawan masuk pada hari cuti bersama, hak cuti tahunannya tidak terpengaruh.

Cuti Haid

Aturan cuti karyawan yang satu ini khusus untuk perempuan, yakni cuti haid. Memang cuti haid tidak berada di Omnibus Law. Tetapi, menurut pembicaraan dari Menteri Ketenagakerjaan, ketentuan terkait ini masih menggunakan peraturan yang lama, yakni UU Ketenagakerjaan. Menurut Pasal 81 ayat 1, karyawan wanita haid atau menstruasi dan berasa sakit sampai tidak sanggup bekerja bisa cuti pada dua hari awal.

Apakah ada Sanksi Kalau Perusahaan Melanggar Ketentuan Cuti Karyawan?

Bagaimana kalau perusahaan menyalahi ketentuan cuti karyawan? Nyatanya ada juga sanksi pidana untuk perusahaan. Apa sanksi untuk perusahaan yang menyalahi UU Cipta Kerja? Perusahaan yang tidak memberikan hak karyawan untuk cuti berarti melakukan sebuah tindak pidana. Misalkan perusahaan yang memberi hak kurang dari 12 hari untuk cuti tahunan. Ancamannya berbentuk kurungan penjara minimal sebulan atau paling lama setahun dan/atau denda minimal Rp 10 juta atau maksimal Rp 100 juta. Untuk perusahaan yang tidak membayar gaji untuk karyawan cuti akan terkena ancaman penjara minimal sebulan. Hukumannya paling lama 4 tahun dan/atau sedikitnya denda Rp 10 juta atau optimal Rp 400 juta.

Pemotongan Cuti Tahunan Jika Mangkir

Di dunia kerja, kehadiran karyawan sangat penting. Ini membantu perusahaan tetap produktif dan efisien. Namun, ada karyawan yang tidak datang ke tempat kerja karena berbagai alasan. Ini disebut mangkir dan bisa mengurangi hak cuti tahunan mereka.

Definisi Mangkir Menurut UU

Menurut Undang-Undang Ketenagakerjaan, mangkir berarti tidak datang ke tempat kerja tanpa alasan yang benar. Alasan yang diterima termasuk cuti, izin, atau kondisi lain yang disetujui oleh perusahaan.

Konsekuensi Mangkir Terhadap Cuti Tahunan

Jika karyawan mangkir, perusahaan bisa kurangi cuti tahunan mereka. Ini untuk menjaga disiplin dan tanggung jawab karyawan. Pengurangan ini tergantung pada kebijakan perusahaan atau perjanjian kerja.

Seberapa besar pengurangan cuti tahunan bergantung pada kebijakan perusahaan. Biasanya, semakin sering karyawan mangkir, semakin besar pengurangan hak cuti mereka.

Itulah mengapa karyawan harus tahu dan patuhi aturan cuti tahunan di tempat kerja. Ini membantu mereka maksimalkan hak cuti dan menjaga hubungan baik dengan perusahaan.

Alasan Cuti Tahunan Dikurangi

Dalam dunia kerja, sering kali karyawan menghadapi situasi di mana jumlah cuti tahunan mereka dikurangi. Ini bisa terjadi karena beberapa alasan penting. Berikut ini adalah beberapa alasan cuti kerja tahunan yang bisa mengurangi jumlah cuti tahunan karyawan:

  1. Ketidakhadiran tanpa pemberitahuan (mangkir): Jika karyawan tidak hadir ke kantor tanpa alasan dan tanpa pemberitahuan, mereka bisa kehilangan cuti tahunan mereka.
  2. Pelanggaran peraturan perusahaan: Pelanggaran terhadap kebijakan perusahaan bisa mengurangi contoh alasan cuti tahunan karyawan.
  3. Penurunan kinerja atau produktivitas: Jika kinerja atau produktivitas karyawan menurun, perusahaan bisa mengurangi jumlah cuti tahunan mereka.

Ada juga situasi lain yang bisa mengurangi cuti tahunan berkurang, seperti pelanggaran etika atau kontrak kerja. Setiap perusahaan punya aturan tentang pengurangan cuti tahunan. Karyawan harus tahu dan patuhi aturan ini.

Pengurangan cuti tahunan bisa jadi tantangan bagi karyawan. Namun, ini penting untuk menjaga produktivitas dan disiplin kerja. Karyawan harus bertanggung jawab dan patuhi kewajibannya untuk menjaga kerja sama di tempat kerja.

Cuti tahunan dan Kompensasinya

Sebagai karyawan, mungkin Anda bertanya-tanya apakah cuti tahunan Anda dapat diuangkan atau tidak. Kami akan jelaskan tentang kompensasi atau uang pengganti untuk cuti tahunan. Kami juga akan bahas apakah cuti tahunan bisa diakumulasi.

Perhitungan Cuti Tahunan Diuangkan

Menurut peraturan, cuti tahunan dan cuti tambahan dapat diuangkan jika karyawan memilih tidak mengambil cuti. Perusahaan akan memberikan kompensasi berupa uang pengganti. Perhitungan cuti diuangkan berdasarkan upah atau gaji harian karyawan.

Cuti Tahunan Tidak Bisa Diakumulasi

Perlu diketahui bahwa cuti tahunan tidak bisa diakumulasi dari tahun ke tahun. Karyawan harus mengambil cuti tahunannya setiap tahun. Jika tidak diambil, hak cuti tahunan akan hangus dan tidak dapat dikompensasikan dengan uang.

Pastikan Anda menggunakan hak cuti tahunan Anda setiap tahun. Jika tidak bisa mengambil cuti, Anda bisa minta perusahaan untuk membayar kompensasi cuti tahunan sesuai perhitungan.

Contoh Kasus Cuti Tahunan Dikurangi

Ada beberapa contoh kasus di mana cuti tahunan karyawan bisa dikurangi. Ini terjadi pada karyawan swasta dan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Kebiasaannya, ini terjadi jika karyawan mangkir atau tidak datang ke kerja tanpa alasan yang jelas.

Contoh lainnya adalah karyawan swasta yang sering terlambat atau tidak datang ke kerja tanpa pemberitahuan. Dalam situasi ini, cuti tahunan mereka bisa dikurangi sesuai dengan jumlah hari mereka tidak datang ke kerja.

Contoh lain adalah PNS yang menggunakan cuti tahunan untuk keperluan pribadi tapi ternyata keluar kota tanpa izin. Dalam kasus ini, cuti tahunan mereka bisa dikurangi sebagai konsekuensi dari pelanggaran.

Contoh KasusAlasan Pengurangan Cuti Tahunan
Karyawan swasta sering terlambat atau tidak masuk kerjaMangkir atau tidak masuk kerja tanpa alasan
PNS menggunakan cuti untuk keperluan pribadi, namun ditemukan keluar kota tanpa izinPelanggaran atas ketentuan penggunaan cuti tahunan

Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa cuti tahunan bisa dikurangi jika ada bukti karyawan mangkir atau melanggar aturan. Ini sebagai bentuk konsekuensi dan upaya untuk mendisiplinkan karyawan. Tujuannya agar karyawan bisa menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik.

Hak Karyawan Terkait Cuti Tahunan

Sebagai karyawan, Anda punya hak-hak yang harus dipenuhi oleh perusahaan. Ini termasuk hak cuti tahunan. Menurut Undang-Undang Ketenagakerjaan, ada ketentuan penting tentang hak cuti tahunan.

FAQ

Apa yang dimaksud dengan cuti tahunan?

Cuti tahunan adalah hak karyawan untuk tidak bekerja selama waktu tertentu setiap tahun. Ini tidak mengurangi upah mereka. Aturannya ada dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan.

Bagaimana perbedaan cuti tahunan dengan jenis cuti lainnya?

Cuti tahunan berbeda dari cuti lain, seperti cuti besar atau bulanan. Ini adalah hak istirahat setiap tahun. Ketentuan cuti lainnya berbeda.

Berapa lama karyawan berhak mendapatkan cuti tahunan?

Lama cuti tahunan bergantung pada masa kerja. Karyawan 1 tahun berhak 12 hari. Lama kerja lebih, jumlah hari cuti bertambah.

Bagaimana aturan cuti tahunan bagi karyawan kontrak?

Karyawan kontrak juga dapat cuti tahunan, namun aturannya berbeda. Mereka biasanya mendapat jatah lebih sedikit dan tidak bisa diuangkan saat kontrak habis.

Apa saja peraturan terkait cuti tahunan yang berlaku di Indonesia?

Peraturan cuti tahunan di Indonesia ada dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan. Karyawan swasta dan PNS berhak mendapat cuti sesuai masa kerja.

Apa yang dimaksud dengan “mangkir” dan bagaimana dampaknya terhadap cuti tahunan?

Mangkir artinya karyawan tidak masuk kerja tanpa alasan. Jika mangkir, cuti tahunannya bisa dikurangi. Ini untuk disiplin karyawan.

Apa saja alasan yang dapat menyebabkan cuti tahunan dikurangi?

Cuti tahunan bisa dikurangi karena karyawan mangkir atau pelanggaran disiplin. Ini untuk meningkatkan produktivitas.

Apakah cuti tahunan dapat diuangkan dan diakumulasi?

Cuti tahunan bisa diuangkan, tapi harus sesuai aturan. Tidak bisa diakumulasi ke tahun berikutnya. Karyawan harus gunakan di tahun yang sama.

Bagaimana prosedur pengajuan cuti tahunan yang harus dilakukan karyawan?

Karyawan harus ajukan permohonan cuti tahunan ke atasan. Perlu dokumen seperti formulir cuti. Perusahaan akan evaluasi dan beri persetujuan atau penolakan.

Apa saja contoh kasus di mana cuti tahunan karyawan dikurangi?

Contoh kasus pengurangan cuti, karyawan mangkir atau pelanggaran disiplin. Ini sebagai konsekuensi tindakan karyawan.

Apa saja hak karyawan terkait cuti tahunan menurut Undang-Undang Ketenagakerjaan?

Karyawan berhak mendapat cuti tahunan sesuai masa kerja. Perusahaan harus berikan tanpa mengurangi upah. Karyawan juga boleh ajukan permohonan dan dapat persetujuan dari perusahaan.